jauh dan dekat
Tadi siang, baru aja ada arisan keluarga besar Tambunan di rumah gw. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas sejak Januari 2009. Sekali dua bulan arisan diadakan tanpa ada kocokan seperti arisan2 lainnya. Jadi ya terserah siapa yang mau jadi tuan rumah arisannya. Arisan kali ini di rumah gw soalnya sekaligus syukuran acara pemakaman ompung dari mama yang diadakan sebulan yang lalu dapat terlaksana dengan sukses. Layaknya setiap acara di keluarga batak, ada bagian yang namanya ‘mandohata’ di mana anggota keluarga dari pihak anak,boru dan bere memberikan sepatah atau dua patah kata (asal jangan patah2 aja). Kali ini isi mandohata-nya berupa ucapan berduka; rasa suka cita karena ompung dari mama pergi dengan meninggalkan keturunan sampai level cicit;dan nasehat2.
Nah, gw tertarik sama mandohata dari adik ompung yang paling kecil (Ompung Sindu). Di situ beliau memberikan cerita menarik dari abad pertengahan. Cerita ini tentang perbincangan seorang guru filsafat dan murid2nya. Begini ceritanya..
Guru: “Murid-muridku, apa yang dekat dengan kalian?”
Murid 1: “Ibu.”
Murid 2: “Bapak.”
Murid 3: “Teman dan sahabat.”
Guru: “Jawaban kalian benar semua, tetapi yang paling benar adalah kematian. Kenapa? Karena semakin hari kematian itu semakian dekat dengan kita. Nah, pertanyaan berikutnya, apa yang jauh dari kalian?”
Murid 1: “Gunung.”
Murid 2: “Bulan.”
Murid 3: “Bintang.”
Guru: “Salah. Jawaban yang benar adalah SEJARAH. Semakin hari,kita semakin jauh dengan hari-hari yang lampau. Dan kita tidak bisa kembali ke hari-hari sebelumnya”
…